Showing posts with label Cerita Tauladan. Show all posts
Showing posts with label Cerita Tauladan. Show all posts

26 July 2013

Uwais Al-Qarni :Terkenal Di Langit Tetapi Tidak Terkenal di Bumi

Bismillahirrahmanirrahim.
Salam wbt.. syukran jiddan lianna ziarah my blog.. apa kata kali ni kita menyingkap kisah sirah dan tokoh islam. Adakah anda mengenali UWAIS AL-QARNI?? jom baca artikel dibawah.. baca sampai abes yer :) Sama2 mengutip segala mutiara yg ada. BarakallahufiQ
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda..
bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah Uwais al-Qarni. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, kerana ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak saudara kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekadar menampung kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
  
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, kerana selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah .a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah .a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah .a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah .a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar .a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq telah di estafetkan Khalifah Umar al-Khattab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa hairan, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar .a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar .a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais.
Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar .a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan ditolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan solat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahawa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! ”katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? ”Tanya kami. Uwais al-Qorni. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.“Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan solat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar)
bingkisaNurani:
Allah Akbar.. banyak sungguh tokoh islam yg belum kita terokai..
peribadi mereka smua sangat hebat dan masih adakah lagi mujahid seperti itu dizaman kini??? satu persoalan yg makin dilupakan..
TEPUK DADA, TANYALAH IMAN KITA..

16 July 2013

Berzina Dengan Ikhlas


Tadi dekat FB aku ada terbaca kisah nie dekat SINI...Semoga kalian boleh renung-renungkan bersama...Aku baca pun tekejut jugak dengan pengakuan seorang pemuda yang melakukan zina adalah kerana niatnya suci..



Berzina Dengan Ikhlas | Seorang remaja yang menamakan dirinya Yang Ikhlas telah menghantar satu surat kepada Dr Danial Zainal Abidin baru-baru ini. Antara isi surat itu ialah: Dr. Danial yang dihormati. Saya telah bercinta dengan seorang wanita. Demi cinta kami telah berzina. Tetapi saya tidak rasa bersalah sebab saya ikhlas dengannya. Saya hendak mengambilnya sebagai isteri saya. Saya tidak bertujuan untuk mempermainkannya. Rakan-rakan saya mengatakan tindakan saya adalah gentleman. Tetapi saya telah dimarahi oleh orang-orang tua saya. Saya rasa mereka berotak kolot. Apakah pandangan dan nasihat tuan.

JAWAPAN DR. DANIAL

Yang Ikhlas yang dihormati. Saya bersyukur tentang keikhlasan saudara dan saya berharap itulah asas perbincangan kita. Dengan keikhlasan itu jugalah saya menulis jawapan ini kepada saudara.

Dunia pada hari ini sedang dilanda krisis. Satu di antaranya ialah krisis nilai. Krisis nilai inilah yang menjadi sebab keruntuhan Empayar Rom. Edward Gibbon dalam bukunya The History of Decline and Fall of the Roman Empire telah menulis bahawa: Segala dasar-dasar akhlak dan moral di Rom telah runtuh sehingga ramai orang memilih jalan untuk hidup bebas…..Di akhir abad keenam, Kerajaan Romawi Timur sedang berada di ambang keruntuhan yang paling dahsyat sekali!

Nabi datang untuk selamatkan kita dari kehancuran yang seperti itu. Nabi bersabda, Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (Hadis riwayat Ahmad & Baihaqi)

Nilai akhlak inilah yang merupakan landasan dan kayu pengukur yang penting bagi kita. Akhlak tidak menghalang kehendak-kehendak fitrah. Ia mencantikkannya. Sebagai contoh, Islam tidak pernah menyuruh kita menutup nafsu seks, sebaliknya menyalurkannya kepada suatu yang murni, selamat dan mendamaikan. Perkahwinan adalah salurannya. Alangkah indahnya firman Allah yang bermaksud: Isterimu adalah ladang bagimu maka datangilah isterimu dengan cara mana yang kamu mahu! (Surah Al-Baqarah ayat 223) Dalam bahasa mudah, selepas berkahwin, puaskanlah nafsumu dengan isterimu sesuka hatimu, melainkan dengan cara yang jelas telah diharamkan kerana kemudaratannya.

Saya harus mengatakan bahawa nilai pada hari ini banyak diasaskan kepada konsep Machiavellianisme yang dipopularkan oleh seorang pemikir dari Florence, Italy yang bernama Niccolo Machiavelli. Machiavelli, dalam bukunya The Prince telah menekankan konsep the end justifies the means ataupun niat membersihkan cara. Asalkan niat kita baik, berzinalah, menipulah, khianatilah, menyamunlah dan begitulah seterusnya. Semua adalah halal bagi Machiavelli.

Laporan akhbar 6 Ogos 1999 juga ada perkaitan dengan krisis nilai ini apabila seorang tokoh koporat berpangkat Datuk, telah menceritakan di mahkamah tentang hubungan seksnya dengan seorang pembaca berita RTM. Beliau mengatakan bahawa niatnya adalah suci kerana bertujuan untuk mengahwininya. Itulah nilai yang sedang melanda dunia sekarang: Seks adalah suci walaupun tanpa perkahwinan!

Memang ada yang mengatakan bahawa pergaulan dan seks bebas ini adalah lambang kemajuan dan kemodenan. Nilai agama dan akhlak adalah kolot. Jika demikian, mari kita perhatikan hasil dan sumbangan seks bebas kepada dunia. Seks bebas telah berjaya merebakkan penyakit AIDS, contohnya di Thailand, sehinggakan akhbar Der Spiegel pernah menjadikan tajuk AIDS in Asia – Killer Epidemic in Sex Paradise (AIDS di Asia – Wabak Pembunuh di Syurga Seks), sebagai tajuk muka depannya. Di California, hampir 61,000 bayi luar nikah dilahirkan pada tahun 1997. Kajian oleh Jabatan Perkhidmatan Kesihatan dan Kemanusiaan Amerika mendapati bahawa anak-anak luar nikah ini mempunyai lebih daripada dua kali ganda kemungkinan diserang masalah emosi di dalam hidup mereka, berbanding dengan anak-anak lain (Rujukan: California Teenage Pregnancy Statistics).

Kita di Malaysia juga telah dimalukan dengan penonjolan kes pembuangan bayi luar nikah di kalangan remaja-remaja kita. Semua ini bukanlah sumbangan yang membanggakan bagi dunia moden.

Islam menekankan bahawa niat dan cara perlu betul. Niat kena ikhlas, cara kena mengikut syariat. Syariat mengharamkan zina. Nabi kita bersabda, Selepas dosa syirik kepada Allah, tidak ada dosa yang lebih besar daripada seseorang meletakkan air maninya ke faraj yang tidak halal baginya! (Hadis riwayat Ahmad & Thabrani)

Saya berharap saudara Yang Ikhlas akan kembali ke jalan yang murni berdasarkan agama. Seks bebas dan keruntuhan moral bukannya lambang kemajuan sebaliknya lambang kemunduran dan kehancuran.

Kaum Lut hancur kerananya.
Kota Pompei hancur kerananya.
Empayar Rom juga hancur kerananya.
Justeru, kembalilah ke pangkal jalan.

(Semoga jawapan ini juga mendatangkan manfaat kepada mereka yang lain)

WALLAHUALAM

23 May 2012

Story Kasih Suami Terhadap Isteri


 Khas Untuk Suamiku....


Dia duduk menghadap laptop di hadapannya. Langsung tidak menghiraukan si dia yang tengah menonton televisyen – ceramah bersama Dato Masyitah. Siaran OASIS astro itu telah pun bertukar kepada Indahnya Iman yang bermaksud akan masuk waktu …solat. Tiba-tiba, si dia bangun dan memandang dia yang tengah khusyuk membelek laptop di hadapan. “abang, maghrib dah nak masuk. Kita jemaah ya.” Si dia yang duduk di hadapan laptop itu senyap. Tersentak sebenarnya. Mana pernah solat. Nak jadi imam? Huh,lawak antarabangsa betul.

 Macam mana dia boleh kahwin dengan ustazah ini pun tak tahu lah. Salah abahlah ni, pandai-pandai nak tentukan jodoh orang. Cari yang stok tudung labuh pulak tu. Okay,salah aku juga sebab pergi teguk kencing syaitan tu sapa suruh. Okay,salah aku lagi, angkut entah mana-mana perempuan untuk hiburan. Okay,salah lagi sebab selalu je aku balik lepas subuh sebab pergi kelab dan balik mabuk. Okay, salah aku lagi, duit syarikat abah habis aku joli kan. Banyaknya salah aku. Jadinya,abah kahwinkan aku dengan Siti Syahirah binti Hj. Amran ni. Bukan itu je, abah hantar aku dengan dia duduk dekat Kepala Batas, Pulau Pinang ni. Itu okay lagi, abah ambil kereta sport aku – dan aku kena guna kereta isteri aku ni.

Abah suruh aku uruskan syarikat dia dekat ceruk ni. Nak enjoy pun tak boleh, sebab ini Pulau Pinang bukan Kuala Lumpur. Enjoylah aku dengan laptop ni. Baru sehari duduk rumah ni, aku dah nak gila. Belum seminggu lagi. Kalau sebulan? Huh. “abang dengar tak?”. Macam cakap dengan laptop tu je. “hm,saya sembahyang dekat surau.” Ek, macam mana ayat tu keluar. Huh,surau pun aku tak tahu dekat mana. Nak lari dari jadi imam sebenarnya. “saya ikut. Jap saya siap.” Si isteri telah pun hilang di pandangan mata. Aiman tersentak. Aduh,dia nak ikut pulak. Laptop di matikan. Dia duduk di sofa sementara menanti si isteri bersiap. Fikiran ligat memikir dekat mana surau.? “abang, dah siap.” Aiman memandang isterinya yang lengkap bertudung labuh saiz 60 dengan t-shirt muslimah dan seluar track-suit. Cantik! “abang..?” Aiman tersedar. “jom.” Kunci kereta di atas meja di capai. “saya bawa kereta awak, tak kisah?” tanya Aiman ragu-ragu. Syahirah senyum. “harta saya harta abang juga.” Aiman hanya mengangguk.

Dalam kereta – hanya dengar radio – hot fm refleksi. Aiman dah tak tentu arah. Syahirah yang dari tadi perhatikan itu macam nak ketawa . Rasanya asyik ulang-ulang je jalan ni. “abang,surau belok kiri tu.” Aiman hanya diam. Malu. Kereta di belokkan pada arah yang diberitahu isterinya. Mereka telah pun tiba di hadapan surau As-Syakirin. Aiman masih tidak mematikan enjin. Syahirah pun tidak keluar lagi dari kereta. Aiman melihat dirinya yang hanya ber-t-shirt dan seluar track-suit. Aduh,mana bawak kopiah ke? Songkok ke? “err,Ira..” Syahirah menoleh. Mana ada orang pernah panggil dia Ira. Pertama kali dengar. “ya?” “okay ke saya pakai macam ni? mana tahu kene halau ke nanti?” Syahirah senyum. “jangan risau yang menilai itu Allah bukan manusia. Kalau niat kita kerana-NYA,insyaAllah. Pakaian abang ni dah okay dah ni.” Aiman terdiam. Tak pernah sebelum ini dia bercakap dengan orang masuk bab-bab agama. “jom.” Ajak Syahirah. “hmm.” Enjin kereta di matikan.

Malam itu Aiman duduk di ruang tamu menonton televisyen. Teringat tadi imam itu bagi ceramah tentang solat. “solat itu tiang agama, kalau tak solat umpama kita meruntuhkan agama.” Teringat diari isterinya yang dia jumpa tadi. Ter-baca. “saya nak suami yang soleh! Ya Allah makbulkan doa hamba.” Aku tak adalah baik sangat. Kenapalah kau kahwin dengan aku. Kesian kau dapat aku jadi suami. Aku jahil agama! aku dah jauh terpesong! Seperti ada suara yang datang dalam fikirannya ‘tapi kau boleh berubah. Allah Maha Pengampun.!’ Televisyen di hadapannya itu di pandang kosong. Berubah? Teringat juga dia amaran abang iparnya. “aku bagi amaran dekat kau, jangan sesekali berani angkat tangan kau ni dekat adik aku, lagi, jangan pernah kau buat dia menangis.” Aiman hanya mendengar amaran keras Shahir sewaktu mereka berduaan di dalam kereta sebelum ke rumah mertuanya. “..ingat! aku dapat tahu hidup adik aku sengsara, hidup kau jugak sengsara! Jangan kau buat perangai buruk kau tu . aku dapat tahu. Aku terus pergi Kepala Batas tu. Kau faham tak?” Aiman hanya mengangguk. Huh,garang! Syahirah memandang suaminya yang duduk di sofa itu. Dia senyum. Dia ke belakang Aiman dan menutup mata Aiman dengan tangannya. “cuba teka ini siapa?” kata Syahirah dengan suara yang di buat-buat macam suara lelaki. Aiman yang tengah berfikir itu terkejut tiba-tiba pandangannya gelap.

Lama. Senyumnya terukir apabila mendengar suara Syahirah. “hmmm, Tom Cruise..” main-main Aiman. “salah! Tom Cruise tak reti cakap melayu!” Aiman ketawa. “hm,Hj. Amran.” Syahirah pula ketawa. “salah! Hj.Amran dekat Johor.” “ha! Tahu..tahu..Syah!” Syahirah kerut dahi. “Syah mana?” “Syahirah.” Aiman menarik tangan isterinya agar duduk di sebelahnya. Cepat sungguh si Syahirah ni mesra. Ingat kan stok yang pendiam. Terkejut juga tiba-tiba si isteri ini nak beramah mesra tapi saudara-mara dia ada kata yang Syahirah ini jenis yang ceria dan dia pula jenis yang boleh je ‘masuk’. “abang buat apa?” “tak ada apa-apa. Saya nak tanya awaklah..” “tanya apa?” “er..kenapa awak terima lamaran abah untuk kahwin dengan saya?” “sebab Allah.” Aiman diam sebentar. “tak faham.” “saya buat solat istiharah. Minta petunjuk dari-Nya.” Aiman senyap. Rasanya tak ada apa yang hendak di katakan lagi. Sebak tiba-tiba.

Seminggu berlalu…. “Abang,saya tak reti masak” kata Syahirah yang tengah bercekak pinggang di dapur itu. Terkejut juga Aiman.Nak makan apa kalau isterinya ini tak reti masak – hari-hari makan kedai bankruplah. Dah lah abah tak bagi duit banyak. Nak berkata sesuatu tetapi tak terluah sebab teringat ayat dalam diari isterinya. “lelaki bising perempuan tak reti masak! Habis, kalau lelaki tak reti jadi imam itu!” Walaupun ayat itu di tulis dalam diari dan bertarikh sebelum mereka bernikah lagi tetapi amat terkesan dalam hati Aiman. “macam mana ni abang?” kata Syahirah sayu. Aiman menggaru kepala. Tak tahu nak jawab apa. “tak apalah, lepas ni kita sama-sama belajar masak.” “maaf ya abang..” Aiman senyum. “tak apa.” Aiman keluar dari dapur. Syahirah rasa bersalah. Itulah! Umi selalu suruh masuk dapur belajar masak. Buat malu je. Sedang Syahirah berfikir di bar dapur itu Aiman masuk dengan membawa laptop. “abang nak buat apa bawa laptop ke dapur?” “belajar masak guna internet.”

Aiman senyum dan mengangkat kening. Syahirah senyum. “huish masin.” Komen Syahirah. Aiman mengambil gulai di hadapan isterinya itu. “abangkan yang masak ni.” Kata Syahirah lagi. Aiman rasa dan ketawa. “okay lah ni. ha,awak punya sayur campur ni tawar! Tak rasa apa-apa..” komen Aiman pula. “okay apa..” “is okay. Gulai itu banyak garam, sayur awak tak rasa apa-apa. Campur je semua. Gulai sayur.” “boleh ke macam itu?” “boleh je.” “okay..” “dah makan cepat. Nanti tak sempat nak siap pergi surau.” Aiman langsung tak sedar apa yang dia cakap. Ajak orang pergi surau? Ajak isterinya? Huh,sejak bila jadi geng surau ni. Syahirah senyum. Dah ada perubahanlah abah ! “ustaz.” Panggil Aiman pada insan yang baru selesai mengimami solat Maghrib itu. Ustaz itu menoleh. “ya?” “saya nak…” “nak apa?” Aiman malu untuk berkata. Tapi sedaya upaya dia cuba luahkan. “anak nak apa?” “saya nak belajar agama.” Terluah juga. Ustaz itu senyum. “mari.” Selesai solat Isyak tadi Syahirah terus keluar dari surau. Lama dia menunggu Aiman di kereta. Senyum terukir apabila melihat Aiman menghampiri bersama seorang lelaki separuh umur. “ustaz kenalkan isteri saya.” Aiman kenalkan Syahirah pada lelaki itu. Syahirah hanya senyum dan mengangguk. “baguslah. Muda-muda kahwin sama-sama pergi surau.” Aiman sentak. Walau apapun senyum paksa di beri.

“Alhamdulillah ustaz, Allah beri suami yang soleh macam Aiman ni.” kata-kata Syahirah membuatkan Aiman terdiam. “Alhamdulillah, semoga kalian berbahagia hingga ke syurga.” “terima kasih ustaz.” Aiman bersuara. Ustaz itu menepuk bahu Aiman. “baiklah, saya balik dulu. Assalammualaikum.” “waalaikumsalam.” Jawab Syahirah dan Aiman serentak. Aiman duduk di birai katil dengan mata memandang Syahirah yang tengah mengemas bajunya ke dalam bagasi. “lamanya abang pergi..” Aiman tersedar. “hmm,seminggu je.” Ya,dia kata dengan Syahirah ada urusan kerja sebenarnya dia mahu ke pondok agama untuk belajar agama dengan ustaz yang dia jumpa sewaktu di surau kelmarin.

Rasanya dia perlu berubah. Sampai bila dia nak mengelak untuk menjadi imam dalam keluarganya. Sampai bila dia nak terus jahil. Sampai bila dia nak membiarkan isterinya keseorangan tanpa bimbingan seorang suami. Sampai bila dia nak terus hipoktrik mengikut Syahirah ke surau tetapi tak tahu apa-apa. Sudah tiba waktunya dia berubah.! “seminggu tu lama tauu..” lirih Syahirah. “pejam celik- pejam celik sekejap je tu..” “kalau pejam tak celik- celik?” tersentak Aiman apabila mendengar ucapan isterinya itu. Sudah, rasa berat pula dia nak tinggalkan si Syahirah ni. Aiman memandang Syahirah. “apa awak cakap ni..” lembut dan ada nada risau di situ. Syahirah ketawa halus. “gurau je lah. Abang ni cepat betul sentap.” Aiman diam. “tak yah lah kemas beriya-iya. Nanti yang lain saya kemas.” Isterinya tarik muncung. “tak mau lah, nanti kurang pahala.”

Sudah dua hari Aiman di pondok agama itu. Memang air matanya di situ asyik mengalir sahaja. Teringat dosa lampau yang pernah di buat. Ya Allah… banyaknya dosa hamba. Selesai solat berjemaah dengan rakan-rakan di pondok, dia menelefon isterinya. Salam berbalas. “awak sihat?” Aiman duduk di tangga surau papan itu. Syahirah bersuara riang. “Alhamdulillah sihat. Abang tak rindu saya ke? Dah masuk hari kedua baru nak call? Abang tahu tak saya bosan duduk rumah sorang-sorang? Saya dah dua hari tak sembahyang jemaah tau? ” Aiman hanya senyum mendengar coleteh si isteri. “..ha, lagi satu abah kata abang mana ada kerja luar, baik abang cakap abang pergi mana?” tiba-tiba suara Syahirah bertukar sebak. “..saya tahu,saya bukan sapa-sapa dekat abang, tapi tak patut abang tipu saya..” air mata Syahirah mengalir. Aiman terdiam. Syahirah juga diam. Terkejut Aiman tiba-tiba terdengar esakkan. “awak nangis ke?” Diam lagi. “awak, saya…” Syahirah memintas. “tak apa. Saya faham.” Air matanya di seka. “ abang sihat tak?” “Alhamdulillah sihat.” Diam. “Abang jangan lupa sebelum tidur baca surah Al-Mulk” pesan Syahirah. “baik sayang.” Terdiam Syahirah. Aiman senyum je. “lagi?” “er..abang jangan lupa baca doa tidur sebelum tidur..” Aiman ketawa. “next?” “..kalau terjaga pukul dua tiga pagi, solat tahajut..” Aiman hanya mengangguk. “lagi?” “..selalu beristigfar” “okay. Lagi?” “..ingat Allah dalam setiap perbuatan.” “alright, next?” “sentiasa berselawat.” “okay.” “abang ni last.” “apa dia tu?” soal Aiman lembut. “doakan rumah tangga kita sampai syurga.” Aiman senyap sekejap. “sure.” Dari jauh Aiman telah nampak senyuman isterinya di hadapan pintu.

Selesai membayar tambang teksi Aiman mengheret bagasi berodanya. Syahirah telah pun keluar menyambutnya siap bertudung. Mereka bersalaman. “Assalammualaikum,awak.” Sapa Aiman. “waalaikumsalam,abang.” Nada ceria. Syahirah bersalaman dengan Aiman. Terpegun juga dia melihat Aiman yang hanya bert-shirt kolar dan berseluar slack serta berkopiah (mungkin Aiman tak perasan). Wajah Aiman seolah ada sinar keimanan. Sangat tenang! Aiman perasan isterinya memerhatikannya. “er,,awak pandang apa?” Syahirah tersentak. “eh, tak.. abang nampak lain.” “apa yang lain?” Aiman memandang dirinya dan baru perasan akan kopiah di kepalanya. “oh..” jawab Aiman dan menarik kopiahnya. “jom masuk.” Mereka beriringan ke ruang tamu. Aiman telah pun duduk di sofa sementara Syahirah pergi membuat air di dapur. Mata Aiman menebar ke seluruh ruang tamu. Kemas dan bersih. Walaupun rumah itu kecil tetapi sangat selesa. Entah. Dulu tinggal dekat villa abah tak pernah rasa selesa dan tenang. “abang nah..” lembut Syahirah menghulurkan gelas itu pada suaminya. Aiman menyambut. “thanks.” “abang, nak tahu tak?”dia duduk bawah melutut depan Aiman yang duduk di sofa itu. “hmm?” Aiman merenung Syahirah. Dia sudah faham dengan sikap Syahirah yang peramah dan banyak cakap ini. Kadang-kadang macam budak-budak. “ada sinetron baru tau.” Berkerut dahi Aiman. “oh, apa benda tu?” “apalah abang ni. itu cerita drama bersiri Indonesia. Tajuknya cinta fitri.” “oh..” gelas di letak di atas meja. “kenapa dengan cerita tu?” “best.”

Syahirah senyum hingga nampak lesung pipitnya. Comel! Walaupun penat Aiman masih lagi melayan. “ apa yang best?” “lagu.” Ek.. “oh.. jalan cerita tak best.?” sungguh, ini baru pertama kali dalam hidup Aiman berbual mengenai drama Indonesia. “best jugak tapi sedih.” “kenapa?” “entah. Abang nak dengar lagu tema cerita tu.?” “lagu apa?” “tajuknya Cinta Kita nyanyian Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar” Syahirah mengambil mp3nya di almari yang terletak di ruang tamu itu juga. Aiman hanya memerhati. “ .. haa, nah..” dia menghulurkan earphone pada Aiman. “hm, awak ambil satu..” kata Aiman dan menghulurkan sebelah lagi pada isterinya. “..er..kita dengar sesama..” teragap-gagap Aiman. “ok.” Ceria Syahirah menyambut earphone itu. Aiman menarik tangan Syahirah agar duduk di sebelahnya. Mudah untuk dengar mp3 itu. Inilah aku apa adanya Yang ingin membuatmu bahagia Maafkan bila ku tak sempurna Sesempurna cintaku padamu “saya baru download tadi..” Syahirah senyum. Aiman turut senyum. Sungguh dia tak pernah buat benda luar alam untuk melayan lagu dari seberang. Ini cintaku apa adanya Yang ingin selalu di sampingmu Ku tahu semua tiada yg sempurna Di bawah kolong langit ini “Abang kita jadikan lagu kita nak?” Aiman diam seketika. Huh, lagu ni rasa macam nak nangis je Aiman dengar. Tak tahu kenapa. “hmmm.” Jalan kita masih panjang Ku ingin kau selalu disini Biar cinta kita tumbuh harum mewangi Dan dunia menjadi saksinya Untuk apa kita membuang-buang waktu Dengan kata kata perpisahan Kedua-dua mereka melayan perasaan dengan lagu itu. Tanpa di sedari Aiman telah melatakkan tangannya di bahu sofa dan spontan menarik isterinya ke dalam pelukkannya. Khusyuk melayan lagu. Demi cinta kita aku akan menjaga Cinta kita yg telah kita bina Walau hari terus berganti hari lagi Cinta kita abadi selamanya… Aiman tersentak apabila terdengar azan. Pantas dia menarik earphone itu. Dia menoleh ke kiri.

Syahirah dah tidur. “eeerr.. awak…” Aiman cuba mengejutkan isterinya lagi. “awak…bangun. Dah azan Asar ni..” Syahirah bangun dengan mengosok matanya. “abang saya ABC la. Abang solat lah..” Aiman pelik. Apa benda pula dia nak ABC ni. “awak, dah Asar. Kalau nak makan ABC jap lagi kita keluar.” Syahirah memandang Aiman. “Allah Bagi Cuti. Sakit perempuan.” Aiman teragak-agak. “oh.. haa. Okay. Saya solat dulu.” Aiman telah pun bangun untuk menuju ke bilik. “abang.” Langkah Aiman mati. Dia menoleh. “doakan rumah tangga kita sampai syurga.” Syahirah senyum dan gaya menadah tangan. “sure.” “abang,saya nak cari buku masak..” Aiman hanya mengangguk dengan tangannya yang ada dua beg kertas barang yang dia beli dan Syahirah beli tadi. “..nanti jumpa abang dekat kaunter lah.” Kata Syahirah lagi dan terus berlalu. Aiman hanya senyum dan menghantar dengan pandangan mata. Aiman berjalan ke buku-buku Islamik. Terdetik hatinya tafsir Al-Quran. Aiman pergi ke kaunter pertanyaan dalam kedai buku itu. “ada boleh saya bantu encik?” “hm, ada tafsir tak? Hmm.tafsir Al-Quran?” “maaf encik tiada stok.” Aiman senyum paksa. “okay. Thanks.” Kenapa tiba-tiba rasa sebak ni. Tiba-tiba, Syahirah datang. “ abang tak beli apa-apa?” “tak. Awak dah jumpa buku?” Syahirah senyum dan menunjukkan buku itu pada Aiman. “tadaaa… nanti kita try dekat rumah ok?” “okay.”

Aiman membayar buku itu. Sewaktu mereka telah keluar dari kedai buku itu. Pekerja kedai buku itu berbisik. “wah,romantiknya mereka!” “tahu tak apa. untungkan wanita itu dapat suami yang punya lah handsome dan baik!” “mana kau tahu baik?” “tadi dia nak beli tafsir Al-Quran.” “oh, memang padanlah. Perempuan itu pun alim je.” “sweet kan. Suami dia just pakai t-shirt berkolar dan seluar slack, isterinya just pakai baju kurung dengan tudung labuh. Baju dorang warna match. Jalan pegang tangan” “superb! Romantic!” “kan Allah S.W.T telah berfirman, “Perempuan yang jahat untuk lelaki yang jahat dan lelaki yang jahat untuk perempuan yang jahat, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik.” (an-Nur’:26) “betul-betul.”

Aiman sibuk membuat kerjanya di ruang tamu. Lama dia bercuti selepas pergi ke pondok hari itu. Justeru, banyak kerja yang perlu di lakukan. “abang..” sapa Syahirah manja. Aiman senyum. “kenapa?” “nah..” Syahirah menunjukkan sesuatu pada Aiman. Aiman mengambil dan berfikir. “birthday saya rasanya belum lagi..” “abang buka lah dulu. Saya dah ngantok. Jangan tidur lewat-lewat tau. Nanti dah masuk bilik tolong perlahankan air-cond. Nite abang. Assalammualaikum.” Syahirah nampak penat. Mana tidaknya sehari suntuk berjalan. Setelah Syahirah masuk ke bilik. Perlahan-lahan Aiman membuka balutan itu. “subhanaALLAH, tafsir Al-Quran..” terasa macam nak mengalir air mata Aiman. ‘Al-Quran, the love letter from Allah’ – isterimu. Aiman turn off laptopnya.

Kertas-kertas yang bertaburan di perkemaskan. Setelah selesai berkemas bahan-bahan kerjanya Aiman mengambil tafsir itu dan masuk ke bilik. Samar-samar. Hanya lampu di sisi katil sahaja yang menyala. Dia lihat Syahirah sudah lena tidur. Mungkin penat sangat. Aiman senyum. Dia meletakkan tafsir itu di atas meja make-up. Seluar di lipat. Aiman menuju ke tandas. Dia perlu melakukan sujud syukur kerana dia memang beriya-iya hendakkan tafsir Al-Quran itu. sewaktu pekerja kedai itu mengatakan sudah habis stok dia seakan kecewa teramat, entah. Tidak tahu kenapa perasaan itu timbul. Sungguhlah kemanisan iman itu sungguh manis. “Aiman!! Kamu nak jadi apa ha ni!” tengking Dato Rahimi merangkap abahnya. Aiman hanya tunduk. Sejak menjadi suami Syahirah dia banyak sangat mendiamkan diri. Dia tak banyak cakap. Selepas pulang dari pondok agama hari dia tak cepat marah atau melenting. “kamu dengar tak ni?! hari tu kamu pergi mana? Kamu buat hal lagi ya? ni akaun syarikat kenapa jatuh teruk ni!” Dato Rahimi mencampak fail itu di meja pejabat Aiman. “abah, ekonomi dekat sini buat masa ini tak stabil..” Dato Rahimi memandang sinis anaknya. “bukan kamu joli kan semua duit tu?” “Abah..” “dah! Abah tak tahu kamu buat macam mana, abah nak kamu settle kan semua bil-bil ni! “ Tercengang Aiman mana dia ada duit banyak tu. “abah, saya tak da duit banyak tu.” “abah tak peduli. Kamu buat apa yang patut!” Dato Rahimi terus keluar dari pejabat itu.

Terduduk Aiman. Ya Allah… tiba-tiba telefon Aiman berbunyi. Shahir. Ada apa abang iparnya ini telefon. “Assalammualaikum.” Lemah Aiman menjawab. “waalaikumsalam, weh Aiman. Kau balik rumah kau sekarang.!” “er, kenapa along?” “kau balik je!” Tersentap Aiman tatkala talian di matikan. Tak tahu pula dia yang abang iparnya ini datang Kepala Batas. Ada apa ya? Aiman mengambil briefcasenya. Satu, satu masalah dia dapat. Laju Aiman memandu kereta isterinya itu. Hari ini Syahirah tak kerja cuti sekolah jadi dia pun cuti lah. Syahirah seorang ustazah yang mengajar subjek Sirah. Justeru, Syahirah menyuruhnya membawa kereta dia. “Along.. tolonglah jangan buat kecoh dekat sini..” rayu Syahirah. “eh, kau diam lah dik..” Aiman melangkah masuk ke rumah. “Assalammualaikum.” “hah, sampai pun kau..” Aiman menghulurkan tangan untuk bersalam dengan abang iparnya tetapi lelaki itu tidak melayannya. Aiman menarik kembali tangannya. “kenapa along?” “aku nak bawak Syahirah balik..”
Sentap Aiman mendengar.

Matanya memandang Syahirah yang telah pun berair mata. “..ta..tapi kenapa?” “kenapa kau tanya? Kau tahu tak? Aku pergi dapur, tak ada makanan langsung! Macam mana kau sara adik aku ha? Lepas tu, aku dengar syarikat kau dah muflis kan?!” herdik Syahir. Sebak Aiman dengar. “along tak boleh buat macam ni..” “apa tak bolehnya! Tak akan kau nak adik aku sara kau pulak! Aku ingatkan abi kahwinkan kau dengan dia kau dah berubah rupanya hampeh je.” “along,kenapa along cakap macam tu?” Syahirah yang tadi berair mata membela Aiman. “kau diam. Dah sekarang aku nak bawa dia balik dekat rumah keluarga kami!” Syahir menarik tangan Syahirah. Syahirah sedaya upaya menarik kembali tangannya. “saya tak akan pergi! Tempat seorang isteri di sisi suami!” “hoi, Aiman. Baik kau izinkan. Tak akan kau nak biar isteri kau ni mati kebulur.!” Marah Syahir lagi. Ya Allah, tabahkan hati hamba. Habis satu masalah di pejabat sekarang masalah isterinya pula. Betul juga apa yang abang iparnya cakap. Dia nak bagi makan apa dekat isterinya ini. Memang kali ini dia muflis tersangat! “abang..tolong…” sayu Syahirah meminta pertolongan Aiman. “saya izin..” sebak. “..saya izinkan awak balik.” Terus Syahir menarik adiknya keluar. Air mata Aiman jatuh juga. Mata di pejam. “abang….” Teriak Syahirah sayu sempat menoleh Aiman yang membelakanginya. Aiman terduduk. Ya Allah beratnya dugaan-MU…

Aiman baru selesai solat Maghrib. Sayu hatinya melihat rumahnya itu sunyi. Memang dia tidak ke surau. Rasa nak demam je. Puas dia memikirkan macam mana nak dapat duit nak selesaikan bil-bil nya. Sedang dia termenung di atas sejadah itu telefonnya berbunyi. Terus button hijau di tekan tanpa melihat nama pemanggil. Aiman terkejut mendengar esakkan di talian itu. “awak..” Esakkan itu masih lagi berbunyi. “Ira..awak..” “sampai.. sampai hati abang..” Aiman senyap. “saya buat macam ni agar awak senang…” “tak ada istilah senang kalau saya kene tinggalkan abang sorang- sorang lalui kepayahan.” “awak tak faham..” sayu Aiman jawab. Suara serak Syahirah berbicara lagi. “abang… biarlah susah senang kita bersama.” Aiman senyap. “abang,tolong lah abang. Saya nak jadi isteri yang solehah.” Aiman masih lagi senyap. Air matanya mengalir. Terharu dengan kata-kata isterinya. Di saat semua orang menyalahkannya tapi Syahirah tidak. “abang…tolong jangan senyap macam ni.. saya bersalah sangat ni..” “sayang tak perlu rasa bersalah.” Terdiam Syahirah. Ya Allah…. “abang, cuba tengok kertas yang saya tampal dekat meja study saya itu..”

Aiman bangun dan menuju ke meja tempat isterinya melakukan kerja- kerja. “cuba abang baca..” Rasulullah saw. bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah. Segala sesuatunya lebih baik. Tampakanlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah engkau menjadi tak berdaya.” (Muslim) Aiman beristigfar. Mata di pejamkan seketika. “sayang..abang betul-betul tak kuat..” buat pertama kalinya kalimah abang itu terluah juga. “abang, tolonglah. Saya nak berada di samping abang saat susah dan senang.” “tapi abang tak kuat nak berhadapan dengan along dan semua orang.” “abang, along hanya insan biasa. Abang ada kuasa untuk membawa saya kembali.…” Aiman hanya diam. “istikharahlah abang, minta petunjuk-NYA…. Assalammualaikum.” Syahirah dah tak sanggup nak berbicara lagi. Talian di matikan. Aiman menarik nafasnya. YA ALLAH……

Nasihat Nabi s.a.w kepada Ali r.a Wahai Ali, bagi orang ‘ALIM itu ada 3 tanda-tandanya: 1) Jujur dalam berkata-kata. 2) Menjauhi segala yang haram. 3) Merendahkan diri. Wahai Ali, bagi orang yang JUJUR itu ada 3 tanda-tandanya: 1) Merahsiakan ibadahnya 2) Merahsiakan sedekahnya. 3) Merahsiakan ujian yang menimpanya. Wahai Ali, bagi orang yang TAKWA itu ada 3 tanda-tandanya: 1) Takut berlaku dusta dan keji. 2) Menjauhi kejahatan. 3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman. Wahai Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda-tandanya: 1) Mengawasi dirinya. 2) Menghisab dirinya. 3) Memperbanyakkan ibadah kepada Allah s.w.t.

“Assalammualaikum..” Aiman menoleh. “waalaikumsalam, eh ustaz.” Mereka bersalaman. Ustaz itu senyum. “baca artikel apa itu?” “Nasihat Rasulullah pada Ali.” “oh, Alhamdulillah. Dari tadi ustaz nampak kamu duduk sini. Tak balik?” Aiman senyum. “tenang duduk dekat masjid ni.” “dari Subuh tadi. Dah nak masuk Maghrib ni, isteri kamu tak ikut?” Aiman sentap. “hm,dia balik kampung.” “oh..eh, ustaz nak pergi toilet sekejap. Kamu bacalah buku ini dulu.” Aiman menyambut lembut buku nota kecil itu. Tangannya menyelak muka surat pertama. Yakin pada Allah bukanlah mengharap terkabulnya segala harapan, Yakin pada Allah adalah meletakkan keredhaan pada ketentuan-Nya, Rasa bahagia dengan ujian walaupun perit, Air mata yg menitis terasa bernilai buat menyiram api neraka, Indahnya tarbiah Allah,tersiram rahmat dan hikmah, Diuji kita sebagai tanda sayang-Nya…. Terkedu Aiman. Ya Allah… Telah dua hari dia tidak berjumpa dengan isterinya. Tipu kalau dia kata dia tak rindu pada wanita yang banyak mengubah hidupnya itu. Memang perit sangat dia rasa. Urusan syarikat pula berkerja keras dia agar dapat projek untuk membayar semua bil-bil syarikatnya. Abah memang dah tak nak tolongnya. Yelah, dulu banyak kali abah tolong, tapi dia yang mensia-siakan. Tapi itu dulu… sekarang lain…
Assalammualaikum, abang dah makan? – Syahirah.

Aiman membaca message itu dan senyum. Dia tahu Syahirah tidak mahu bercakap voice to voice dengannya. Merajuk tapi still tanya khabar melalui pesanan ringkas (sms). Comel je isterinya itu merajuk.
Waalaikumussalam, Alhamdulillah sudah. – Aiman
Lepas beberapa minit.
Syarikat abang dah okay? – Syahirah.
Doakanlah ada projek yang masuk. – Aiman
Solat Dhuha lah abang. Solat itu membuka rezeki. insyaALLAH, kalau kita sabar berdoa dan berusaha Allah akan tolong. – Syahirah.
Aiman senyum membaca message itu. insyaALLAH. – Aiman.

“Assalammualaikum, abi.” Aiman menelefon ayah mertuanya, Haji Amran. “waalaikumsalam. Aiman, kenapa ni?” nada risau. “abi,saya… saya..” tak terluah oleh kata-kata. “Aiman, abi faham. Sekarang kamu buka email kamu. Abi ada hantar satu video. Kamu hayati dan kamu fikir lah baik-baik. Bersabar ya Aiman.” “terima kasih abi.” Selepas salam berbalas. Talian di matikan. Syukur,abinya seorang yang memahami. Aiman membuka emailnya. Abinya agak moden kerana seorang dekan di sebuah university terkemuka di tanah air. Wajarlah, alongnya tak mahu adiknya Syahirah itu hidup melarat. Matanya tertala pada email versi video itu. kamu hayati dan kamu renung2kan lah. Kesian, abi tengok Syahirah. Dia sangat memerlukan kamu. Air matanya jatuh lagi saat melihat video itu. Sungguh, dia hampir melepaskan tanggungjawabnya sebagai seorang suami. Astarfiruallahalazim. Erat Syahirah memeluk suaminya saat Aiman masuk ke dalam rumah abinya tadi. Haji Amran hanya senyum melihat mereka. “abang please.. jangan tinggalkan saya lagi..” esak Syahirah. Aiman yang terkedu itu mengesat air mata Syahirah. “shhtt, abang dah datang ni. jangan nangis lagi ya.” mata mereka bertentangan. Syahirah mengangguk dan memandang abi dan uminya. “jaga dia baik-baik Aiman.” Pesan Hj. Amran. “terima kasih abi, umi..” sayu sahaja Aiman bercakap. Teringat nasihat abinya itu. Mujur alongnya ada conference dekat Seoul,Korea. Tak perlu dia berdebat dengan alongnya itu.

Terima kasih Ya Allah, KAU permudahkan urusan ini. “kami balik dulu abi, umi.” Aiman bersalaman dengan kedua mertuanya itu di turuti Syahirah. “Assalammualaikum.” “waalaikumsalam.” “saya sayang abang.” Luah Syahirah sewaktu mereka dalam kereta perjalanan untuk pulang ke rumah. Aiman yang tengah memandu itu senyum. “saya pun sayang awak juga.” Syahirah senyum senang. “Ira…” panggil Aiman. “ya?” Syahirah memandang suaminya yang tengah memandu itu. Aiman diam sekejap. “thanks.” “thanks untuk apa?” “sebab awak saya dah banyak berubah.” Syahirah ketawa kecil. “bukan saya lah tapi Allah. Allah yang ketuk pintu hati abang.” “tapi kalau abang tak jumpa inspirasi hati abang ni, abang tak berubah..” kata Aiman. Syahirah senyum. “saya hanya pengantara je. Semua itu telah tertulis di Luh Mahfuz.” Aiman mengangguk dengan mata yang masih lagi focus memandu. “thanks lagi sekali.” Dahi Syahirah berkerut. “untuk apa pula?” “settlekan bil-bil syarikat tu..” “kita suami isteri kene saling membantu.” “mana Ira dapat wang banyak macam itu?” Syahirah senyap. Sebenarnya itu wang yang di kumpul sebelum kahwin lagi untuk dia menunaikan haji dan untuk kos perubatan barah hatinya yang dia rahsiakan daripada abi,umi dan along . Dia bersyukur Allah beri penyakit itu, dia rasa beruntung kerana dia akan sentiasa mengingati mati dan bertaubat atas setiap kesalahannya. Biarlah,hanya dia dan Allah yang tahu derita bahagia ini. Aiman memandang Syahirah sekilas.

“sayang..mana awak dapat wang banyak macam itu?” Syahirah terkelu. “hm,rezeki Allah.” “dari mana? Tak akan turun dari langit kot?” soal Aiman lembut. “abang, jom kita makan dekat restoran tu, lapar pula rasanya.” Syahirah menunjuk ke arah sebuah retoran di sebelah kiri itu. Aiman terus lupa apa yang dia soal tadi. Kereta di belokkan. Sewaktu makan di restoran itu mereka bertukar cerita dan ketawa. Tiba-tiba , Syahirah terbatuk. Aiman terkejut. Syahirah terkejut tangannya berdarah selepas dia menutup mulut tadi. Aiman terus menerpa ke arahnya. “awak.” Terkelu lidah Aiman sewaktu melihat darah itu. Syahirah senyum. “biasalah ni, panas tu yang berdarah tekak tu.” “kita pergi klinik.” Syahirah dah pening. “tak apa. Ni panas ni. Dah biasa.” “no… nampak serious ni.” ujar Aiman yang melutut di sisi Syahirah yang duduk di kerusi itu. Syahirah ketawa perlahan yang di buat-buat. “abang ni, panas je lah ni. saya nak pergi toilet jap.” Sedaya upaya Syahirah cuba melangkah.

Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Sakitnya Ya Allah. Aiman tak tahu nak buat apa. Hanya dengan pandangan dia menghantar isterinya itu. Sebak tiba-tiba hatinya. Ya Allah, semoga semuanya baik-baik sahaja. “abang, bangun..” Syahirah menggerakkan Aiman di sebelahnya. “..Encik Aiman, bangun..” kejut Syahirah lagi. Kenapa tak bergerak ni. Kuat Syahirah menggerakkan Aiman lagi. “abang….abang.. bangun…” Aiman membuka matanya perlahan-lahan. “hmm, kenapa sayang?” “abang,jom buat qiamullai berjemaah. Kita tak pernah qiamullai berjemaah.” Aiman duduk menghadap Syahirah. “dah pukul berapa?” “hmm, 4.30 pagi.” “jom.” Ajak Aiman. Kini, dia telah yakin untuk menjadi imam tidak sia-sia dia ke pondok agama hari itu. “..sayang ambil wudhuk dulu..” “okay.” Sebelum turun dari katil sempat Syahirah mencium pipi Aiman. Terkejut juga Aiman. “mimpi ke reliti ni?” seloroh Aiman dan memegang pipinya yang di cium tadi. Syahirah hanya ketawa halus dan masuk ke bilik air. Selesai berqiamullai dan membaca doa Aiman bersalaman dengan Syahirah. “abang,saya nak minta maaf kalau saya ada terkasar bahasa dan menyakitkan hati abang.”

Seperti biasa Syahirah akan sentiasa memohon kemaafan pada suaminya selepas solat. “..halalkan semua makan minum.” Aiman menarik Syahirah dalam pelukkannya. “abang pun nak minta maaf tersalah kata dan menyakitkan hati awak. Abang, minta halal juga semuanya ya.” dahi isterinya di cium. “Allah makbulkan doa saya untuk dapat suami yang soleh.” Kata Syahirah dan senyum. Aiman hanya senyum. “hm, nak ikut abang Subuh dekat surau tak?” Syahirah geleng. “boleh ea abang. Saya nak sembahyang dekat rumah je. Letihlah.” Aiman mengangguk. “oklah. Nanti abang belikan sarapan.” “okay, saaaaayang abang !” lirih Syahirah dan senyum. “sayang awak juga.” Aiman memasukkan keretanya ke dalam porch rumah selepas pulang dari surau. Sebelum keluar dia mengambil plastik yang mengandungi dua bungkus nasi lemak. Aiman keluar dari kereta.

PRRRANGGGGG!!!!!!!! Terkejut Aiman mendengar pinggan pecah. Terus dia berlari masuk ke rumah. Aiman ternampak kelibat dua orang berbaju hitam dan bertopeng. Pantas dia cuba mengejar dua makhluk yang pecah masuk rumahnya itu. Dia berlari ke dapur. Terkejut Aiman sewaktu dia ke dapur. Darah berlimpahan. Isterinya. “Sayang !!!!” jerit Aiman melihat Syahirah yang menahan sakit akibat di tikam dengan pisau. Aiman cuba mencari dua orang kelibat tadi, tapi malangnya ada orang telah menerkup mulutnya dengan kain yang mengandungi bahan kimia yang membuatkan Aiman tidak bernafas dan pengsan.
**********

Aiman terpisat-pisat bangun. Kepalanya seakan sakit. Sewaktu mata terbuka dia terdengar suara orang yang hendak masuk ke rumah. Matanya beralih ke kiri. Ya Allah. “sayang..” Aiman memangku Syahirah yang lemah itu. Entah macam mana dia boleh memegang pisau. Aiman mencampakkan pisau itu. “ha, ini tuan yang membunuhnya!” terkejut Aiman tatkala anggota polis masuk ke dalam rumahnya. “bukan saya.” “dah bawak dia. Cuba periksa nadi mangsa.” Tangan Aiman bergari. “bukan saya!..” Aiman terkejut melihat abahnya juga turut di disitu. “Abah! Bukan Aiman!!! Abah!!” anggota polis itu membawa Aiman keluar rumah. Abahnya hanya menggeleng dengan air mata berlinangan. “kalau kamu tak suka dia pun janganlah sampai macam ni…” sayu abahnya berbicara. “bukan Aiman bah!!” Sewaktu keluar. Memang dah ramai orang di luar rumahnya. Aiman memandang abi,umi dan alongnya. “abi, bukan saya, umi!!” meronta-ronta Aiman. “sedangkan orang gila tak mengaku dia gila, inikan kau yang waras nak mengaku kau bunuh adik aku!” herdik abang iparnya yang mata merah mungkin sebab menangis.

Aiman cuba meronta. “bukan saya! Abi!! Umi!! Percaya saya..” “cepat bawa dia!” arah alongnya. Ya Allah dugaan apa yang KAU berikan ini. Ya Allah izinkan hamba dapat berjumpa dengan isteri hamba. Ya Allah…………. Semoga dia selamat. Air mata Aiman jatuh tika pandangan rumahnya makin hilang. Sayang… Bantu hamba Ya Allah……… Haji Amran melawat menantunya di penjara. “abi..percayalah saya..” Haji Amran senyum. “sabar Aiman, kebenaran akan terungkap, bersabarlah..” “abi, macam mana keadaan Syahirah?” Haji Amran senyap. Air matanya bergenang. Sebak dadanya. “abi kenapa dengan isteri saya?” Haji Amran hanya senyap dan senyum terpaksa. “bersabarlah Aiman, berdoa banyak-banyak. Doa itu senjata muslim gunakan sebaik- baiknya.” Haji Amran bangun dari kerusi itu. “abi,jawab saya abi. Syahirah macam mana?” mengalir air mata Aiman tatkala ayah mertuanya tidak menjawab soalan. “abi,kene pergi dah ni. banyak-banyakkan bersabar. Ingat Allah sentiasa. Assalammualaikum.” Haji Amran terus keluar dari bilik itu. Lemah lutut Aiman mendengar kata-kata abinya itu. Ya Allah, hamba tak kuat….. “abang, cuba tengok kertas yang saya tampal dekat meja study saya itu..” Aiman bangun dan menuju ke meja tempat isterinya melakukan kerja- kerja. “cuba abang baca..” Rasulullah saw. bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah.

Segala sesuatunya lebih baik. Tampakanlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah engkau menjadi tak berdaya.” (Muslim) “Encik,saya nak sejadah dan tafsir Al-Quran..” kata Aiman pada warden yang menjaganya itu. Alhamdulillah,sepanjang dia di penjara itu. warden-warden di ditu berlembut dengannya. Terima kasih Ya Allah, KAU melindungi aku. Aiman membuat solat sunnat. Selepas itu dia membaca Al-Quran. ‘Al-Quran, the love letter from Allah’ – isterimu. Air matanya terus mengalir sewaktu membaca ayat-ayat suci itu. Basah tafsir itu dengan air matanya. Allah…
Belajar DIAM dari banyaknya BICARA Belajar SABAR dari sebuah KEMARAHAN Belajar KESUSAHAN dari hidup SENANG Belajar MENANGIS dari suatu KEBAHAGIAN Belajar KEIKHLASAN dari KEPEDIHAN Belajar TAWAKKAL dari UJIAN Belajar REDHA dari satu KETENTUAN..

“Alhamdulillah.” Berulang-ulang ayat itu keluar dari mulutnya. Haji Amran hanya senyum melihat wajah menantunya itu. “bebas juga saya abi..” kata Aiman. “Alhamdulillah, Allah tunjuk kekuasaanNYA dengan anggota polis yang menemui kain yang menerkup kamu itu dan dompet perompak yang tercicir itu.” Aiman senyum. Terima kasih Ya Allah. “abi,jom jumpa Syahirah.” Bicara Aiman ceria. Haji Amran tersentak. Dia hanya mengangguk. Aiman duduk di bahagian sebelah memandu. Abahnya telah berangkat ke umrah, sebagai tanda bersyukur Aiman tak bersalah. Aiman hanya senyum sepanjang jalan. Tak sabar hendak bertemu isterinya. Rindu. Hampir sebulan dia tak bertemu. Haji Amran berhenti di hospital. Aiman terkejut. “abi, kenapa di sini?” “turun dulu Aiman. Jom.” Ajak Haji Amran. Aiman hanya menuruti.

Sewaktu tiba di depan wad Aiman terkejut melihat ramai orang. Dia merenung dari luar sebuah bilik itu. Dia nampak abang iparnya dah duduk menangis. Dia nampak uminya tengah menangis. Dia nampak doctor. Perlahan Aiman melangkah ke arah bilik itu. “maaf, dia tak dapat di selamatkan.” Lemah lutut Aiman dengar. Bukan. Salah ni. Aiman menghampiri katil itu. “barah hatinya dah kriktikal, effect. Dia tak dapat nak survive. Bersabarlah.” Kaki Aiman hampir di tepi katil itu. Ya Allah… Air matanya cuba di tahan. Sakit! Dia lihat Syahirah baring tenang di atas katil itu. Aiman mengangkat sedikit kepala isterinya itu dan di kucup dahi isterinya lembut. Selepas itu, kakinya sangat lemah. Ya Allah beratnya ujian ni.. “TAK!!!!!” jerit Aiman dan terduduk. Dia menangis. Haji Amran menenangkan menantunya itu. “sabar Aiman…bawa mengucap.” “bukan Ira abi..bukan dia…” tangis Aiman. Haji Amran mengusap bahu Aiman. “dah di tentukan ajalnya..” sebak Haji Amran. “tak…tak…bukan dia..” sayu Aiman mengungkap. Sekali lagi dia memandang wajah jenazah isterinya itu. Sakit. Ya Allah sakitnya rasa ini. Sakit sangat! Kenapa Ya Allah. Syahirah……….


Air mata lelakinya deras mengalir. video cinta kita – “lagu apa?” “tajuknya Cinta Kita nyanyian Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar” Syahirah mengambil mp3nya di almari yang terletak di ruang tamu itu juga. Aiman hanya memerhati. “ .. haa, nah..” dia menghulurkan earphone pada Aiman. “hm, awak ambil satu..” kata Aiman dan menghulurkan sebelah lagi pada isterinya. “..er..kita dengar sesama..” teragap-gagap Aiman. “ok.” Ceria Syahirah menyambut earphone itu. Aiman menarik tangan Syahirah agar duduk di sebelahnya. Mudah untuk dengar mp3 itu. “Abang kita jadikan lagu kita nak?” Aiman diam seketika. Huh, lagu ni rasa macam nak nangis je Aiman dengar. Tak tahu kenapa. “hmmm.” kenapa harus begini…..

Aiman menutup buku agama yang di bacanya itu. Buku itu di letak di sisi katil. Pelipisnya di gosok. Ya Allah. Sedar tak sedar hampir masuk setahun setengah Syahirah pergi menemui Ilahi. Sungguh, hampir 5 bulan dia cuba kembali ke reality. Abah dan abinya puas meredhakan hatinya. Puas mereka menghantarnya berubat. Waktu itu, hanya tuhan sahaja yang tahu bertapa sedihnya dia kehilangan orang yang di sayangi dalam sekelip mata. Benarlah, ajal maut ketentuan tuhan. Akhirnya, dia akur. Setiap hari tak pernah dia lupa untuk membacakan Yassin untuk isterinya. Isterinya yang solehah. Inspirasi Hatinya. Aiman turun dari katil dan keluar dari biliknya. Kini, dia kembali tinggal bersama abah dan mamanya di villa mereka. “Aiman, nak pergi mana?” Dia senyum. “ma..” Aiman menghampiri mamanya dan di cium tangan wanita itu. “nak keluar.” “pergi mana malam-malam ni?” soal abahnya pula. Aiman bersalaman dengan abahnya pula. “hm, pergi masjid. Aiman pergi dulu. Assalammualaikum.” “waalaikumsalam.”

Aiman meletakkan kereta sportnya di hadapan masjid itu. Senyumnya terukir. Dia keluar dari kereta. Kaki melangkah masuk di pintu utama masjid. Setelah berwudhuk. Aiman melakukan solat sunnat masuk masjid. Setelah itu dia melakukan solat sunnat taubat dan solat sunnat yang lain. Selesai melakukan solat dia membaca Al-Quran pula. “Assalammualaikum.” Sapa seorang lelaki separuh umur. Aiman memberhentikan bacaannya. “waalaikumsalam.” “anak musafir ke? Dah lewat malam ni.” Aiman senyum. Dia tahu dah hampir 12 tengah malam. “saya ingat nak tidur sinilah pak cik.” “oh, kalau begitu pak cik balik dulu lah ya.” Aiman mengangguk. Setelah hampir satu juzuk Aiman baca matanya sudah mahu terlelap. Aiman menyimpan semula Al-Quran itu ke rak. Sejadah di ambil untuk di jadikan bantal. Aiman membaringkan badannya. “Abang jangan lupa sebelum tidur baca surah Al-Mulk” pesan Syahirah. “baik sayang.” Terdiam Syahirah. Aiman senyum je. “lagi?” “er..abang jangan lupa baca doa tidur sebelum tidur..”
Aiman menadah tangannya untuk membaca doa tidur. Ya Allah, rindunya hamba pada dia. Air mata Aiman mengalir. Dia baring mengiring ke kanan. Mata cuba di lelapkan. Tiba-tiba, mata Aiman terpandang seseorang. Sayang. Aiman bangun. Dia menghampiri Syahirah yang senyum memandangnya dengan siap bertelekung. “sayang..” Aiman menggenggam tangan Syahirah. “jangan tinggal abang lagi.” Tangan itu di kucup. Syahirah hanya senyum dan menarik tangan Aiman agar mengikutinya.

 Lemah lutut Dato Rahimi dan isterinya sewaktu mendapat berita itu. Cepat mereka bergegas ke masjid yang di katakan pemanggil itu. “tu lah Dato. Malam tadi saya jumpa dia sebelum arwah meninggal. Dia kata nak tidur masjid. Saya ya kan je lah. Tak tahu pula saya yang ajalnya dah makin tiba.” Sebak Dato Rahimi mendengar. “terkejut saya pagi tadi melihat dia tidur. Saya kejutkan dia untuk bangun Subuh tapi tak bergerak-gerak, tu saya suruh orang check nadi dia. Dia menemui Ilahi.” Mengalir air mata isteri Dato Rahimi. Ya Allah, semoga roh anak kandung dan menantunya di bawah rahmat-MU. Al-Fatihah.

Assalammualaikum – alhamdulillah tamat juga. Kadang-kadang dalam hidup ini tak semua benda kita boleh dapat. Apa yang kita rancang terkadang tak sama dengan apa yang kita akan dapat. Untuk kisah ini, bagi Aiman satu pengakhiran yang baik sebab dia sempat mendekati dirinya dengan ALLAH, dia juga dalam keadaan yang bersih. Bagi kita? wallahualam, hidup mati ini tak tentu bila tapi ingatlah. Ianya pasti. Permulaan hidup kita sangat indah di azan atau di iqamatkan. Ayat pertama yang kita dengar. Alangkah indahnya jikalau akhir hayat kita juga di akhiri dengan kalimah yang indah. Mari kita berusaha menjadi hamba yang baik. Ingat mati itu pasti syurga atau neraka yang menanti. wallahua’lam…

Note: Cerita nie terlalu panjang....Tapi aku seronok membacanya hihihi...Korang Camna?

sumber: informasi.my

03 December 2011

Suamiku Nak Kahwin lagi satu

“Sayang, Abang minta izin untuk nikah sorang lagi,” Aliyah yang sedang melipat kain, terdiam seketika.
Mungkin terkedu. Adakah pendengarannya kian kabur lantaran usianya yang kian beranjak.
Adakah dialog tadi hanya dilafazkan di dalam TV, sementelah TV juga dipasang.
Tapi, ahh bukanlah. TV sedang menayangkan iklan Sunsilk, mustahil sudah ada siri baru iklan Sunsilk?
Dia menghela nafas panjang.
Dia memandang sekali imbas wajah Asraf Mukmin, kemudian tersenyum.
Meletakkan kain yang telah siap dilipat di tepi, bangun lantas menuju ke dapur. Langkahnya diatur tenang.
Segelas air sejuk diteguk perlahan. Kemudian dia ke bilik Balqis, Sumayyah, Fatimah. Rutin hariannya, mencium puteri-puterinya sebelum dia masuk tidur.
Buat Lelaki, tanamkan sifat belas dan kasihan kepada wanita yang lemah
Dahulu, semasa puterinya kecil lagi, rutin itu dilakukan dengan suaminya.
Kini, anak-anak kian beranjak remaja dan kemudian, dia menjenguk bilik putera bujangnya yang berdua, si kembar, Solehin dan Farihin, lalu pengabisannya dia kembali kepada suaminya.
Asraf Mukmin hanya diam, membatu diri. Dia amat mengenali isterinya. Jodoh yang diatur keluarga hampir 16 tahun yang lepas menghadiahkan dia sebuah keluarga yang bahagia, Aliyah adalah ikon isteri solehah.
Namun, kehadiran Qistina, gadis genit yang menjawat jawatan pembantu tadbir kesetiausahaan di jabatannya benar-benar membuatkan dia lemah.
Kau mampu Asraf, dengan gaji kau, aku rasa kau mampu untuk beri makan 2 keluarga,” sokongan Hanif, teman sepejabat menguatkan lagi hujah apabila dia berdepan dengan Aliyah.
Abang Asraf, Qis tak kisah. Qis sanggup bermadu jika itu yang ditakdirkan. Bimbinglah Qis, Qis perlukan seseorang yang mampu memimpin Qis,” masih terngiang-ngiang bicara lunak Qis.
Akhir-akhir ini, panas rasanya punggung dia di rumah.
Pagi-pagi, selesai solat subuh, cepat-cepat dia bersiap untuk ke pejabat.
Tidak seperti kelaziman, dia akan bersarapan berjemaah bersama isteri dan anak- anak.
Aduhai, penangan Qis gadis kelahiran Bumi Kenyalang benar-benar menjerat hatinya.
Abang , Aliyah setuju dengan permintaan Abang. Tapi, Aliyah nak berjumpa dengan wanita tu,” Lembut dan tenang sayup-sayup suara isterinya.
Dia tahu, Aliyah bukan seorang yang panas baran.
Aliyah terlalu sempurna, baik tetapi ahh hatinya kini sedang mengilai wanita yang jauh lebih muda.
Bawa dia ke sini, tinggalkan dia bersama Aliyah selama 1 hari saja, boleh?” pelik benar permintaan isterinya.
Hendak dipengapakan apakah buah hatinya itu? Namun, tanpa sedar dia menganguk, tanda setuju.
Sebab, dia yakin isterinya tidak akan melakukan perkara yang bukan-bukan.
Dan hakikatnya dia seharusnya bersyukur. Terlalu bersyukur.
Kalaulah isterinya itu wanita lain, alamatnya perang dunia meletus lah jawabnya. Melayanglah periuk belanga.
Ehhh, itu zaman dulu-dulu. Zaman sekarang ni, isteri-isteri lebih bijak.
Buat Wanita, belajarlah untuk setia kepada hanya seorang manusia iaitu suami
Teringat dia kisah seorang tentera yang disimbah dengan asid, gara-gara menyuarakan keinginan untuk menambah cawangan lagi satu.
Kecacatan seumur hidup diterima sebagai hadiah sebuah perkahwinan yang tidak sempat dilangsungkan. Dan dia, hanya senyuman daripada Aliyah.
Apa, nak suruh Qis jumpa dengan isteri Abang,” terjegil bulat mata Qis yang berwarna hijau. “Kak Aliyah yang minta,” masih lembut dia memujuk Qis.
Biar betul, apa dia nak buat dengan Qis?” “Takutlah Qis, silap haribulan dia bunuh Qis!” terkejut Asraf Mukmin.
Percayalah Qis, Aliyah bukan macam tu orangnya. Abang dah lama hidup dengannya. Abang faham,” Qistina mengalih pandangannya.
Mahu apakah bakal madunya berjumpa dengannya? Dia sering disogokkan dengan pelbagai cerita isteri pertama membuli isteri kedua.
Heh, ini Qistina lah, jangan haraplah jika nak membuli aku.. Desis hati kecil Qistina.
Hari ini genap seminggu Qistina bercuti seminggu.
Seminggu jugalah dia merindu. Puas dicuba untuk menghubungi Qistina, namun tidak berjaya.
Rakan serumah menyatakan mereka sendiri tidak mengetahui ke mana Qistina pergi. Genap seminggu juga peristiwa dia menghantar Qistina untuk ditemuduga oleh Aliyah.
Sedangkan dia diminta oleh Aliyah bermunajat di Masjid Putra.
Di masjid itu, hatinya benar-benar terusik. Sekian lamanya dia tidak menyibukkan dirinya dengan aktiviti keagamaan di Masjid Putra.
Dulu, sebelum dia mengenali Qistina, saban malam dia akan bersama dengan Aliyah serta anak-anaknya, berjemaah dengan kariah masjid dan kemudiannya menghadiri majlis kuliah agama.
Membaca Al-Quran secara bertaranum itu adalah kesukaannya.
Namun, lenggok Qistina melalaikannya. Haruman Qistina memudarkan bacaan taranumnya. Hatinya benar-benar sunyi. Sunyi dengan tasbih, tasmid yang sering dilagukan.
Seharian di Masjid Putra, dia cuba mencari dirinya, Asraf Mukmin yang dulu. Asraf Mukmin anak Imam Kampung Seputih. Asraf Mukmin yang asyik dengan berzanji.
Menitis air matanya. Hatinya masih tertanya-tanya, apakah yang telah terjadi pada hari itu.
Aliyah menunaikan tanggungjawabnya seperti biasa. Tiada kurangnya layanan Aliyah.
Mulutnya seolah-olah terkunci untuk bertanya hal calon madu Aliyah.
Tit.. tit… sms menjengah masuk ke kantung inbox hensetnya. “Qis minta maaf. Qis bukan pilihan terbaik utk Abang jadikan isteri. Qis tidak sehebat Kak Aliyah. Qis perlu jadikan diri Qis sehebatnya untuk bersama Abang.”
Dibawah hensetnya, ada sekeping sampul besar.
Kepada: Asraf Mukmin, Suami yang tersayang…
Asraf Mukmin diburu kehairanan. Sampul berwarna cokelat yang hampir saiz dengan A4 itu dibuka perlahan.
“Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasihani.
Salam sejahtera buat suami yang tercinta, moga redhaNya sentiasa mengiringi jejak langkahmu. Abang yang dikasihi, genap seminggu sesi temuduga yang Aliyah jalankan pada Qistina.
Terima kasih kerana Abang membawakan Aliyah seorang calon madu yang begitu cantik. Di sini Aliyah kemukakan penilaian Aliyah.
01.Dengan ukuran badan ala-ala model, dia memang mengalahkan Aliyah yang sudah tidak nampak bentuk badan. Baju- bajunya memang mengikut peredaran zaman. Tapi, Aliyah sayangkan Abang. Aliyah tak sanggup Abang diheret ke neraka kerana menanggung dosa. Sedangkan dosa Abang sendiri pun, masih belum termampu untuk dijawab di akhirat sana , apatah lagi Abang nak menggalas dosa org lain. Aliyah sayangkan Abang…
02.Aliyah ada mengajak dia memasak. Memang pandai dia masak, apatah lagi western food. Tapi, Aliyah sayangkan Abang. Aliyah tahu selera Abang hanya pada lauk pauk kampung. Tapi tak tahulah pula Aliyah kalau-kalau selera Abang sudah berubah. Tapi, Aliyah masih ingat lagi, masa kita sekeluarga singgah di sebuah restoran western food, Abang muntahkan semua makanan western food tu. Lagi satu, anak-anak kita semuanya ikut selera ayah mereka. Kesian nanti, tak makan la pula anak-anak kita. Aliyah sayangkan Abang…
03.Aliyah ada mengajak dia solat berjemaah. Kelam kabut dibuatnya. Aliyah minta dia jadi Imam. Yelah, nanti dia akan menjadi ibu pada zuriat Abang yang lahir, jadinya Aliyah harapkan dia mampu untuk mengajar anak-anak Abang untuk menjadi imam dan imamah yang beriman. Tapi, kalau dia sendiri pun kelam kabut memakai telekung… Aliyah sayangkan Abang…
Abang yang disayangi, cukuplah rasanya penilaian Aliyah. Kalau diungkap satu persatu, Aliyah tak terdaya. Abg lebih memahaminya. Ini penilaian selama 1 hari, Abang mungkin dapat membuat penilaian yang jauh lebih baik memandangkan Abang mengenalinya lebih dari Aliyah mengenalinya.
Abang yang dicintai, di dalam sampul ini ada borang keizinan berpoligami. Telah siap Aliyah tandatangan. Juga sekeping tiket penerbangan MAS ke Sarawak.
Jika munajat Abang di Masjid Putra mengiayakan tindakan Abang ini, ambillah borang ini, isi dan pergilah kepada Qistina.
Oh ya, lupa nak cakap, Qistina telah berada di Sawarak. Menunggu Abang… Aliyah sayangkan Abg…
Tetapi jika Abg merasakan Qistina masih belum cukup hebat untuk dijadikan isteri Abang, pergilah cari wanita yang setanding dengan Aliyah… Aliyah sayangkan Abg.
Tetapi, jika Abg merasakan Aliyah adalah isteri yang hebat untuk Abang.. tolonglah bukakan pintu bilik ni. Aliyah bawakan sarapan kegemaran Abang, roti canai.. air tangan Aliyah.”
Salam sayang, Aliyah Najihah binti Mohd Hazery.

P/s: Agak-agak korang bagi tak suami korang kahwin lagi satu? Hati korang semulia hati Aliyah tak?? Muuuaahhh

29 October 2011

Di Belit Ular Ketika Berzina

Aku nak kongsikan bersama satu kisah yang aku ambik kat Sini  Memang teruja betul aku baca kisah pasangan ini....Jom! Baca..
DIRIWAYATKAN OLEH IBNUL JAUZI BAHAWA :
“SESUNGGUHNYA NERAKA JAHANAM MEMILIKI TUJUH BUAH PINTU. YANG PALING MENAKUTKAN, PALING PANAS DAN PALING BUSUK BAUNYA ADALAH PINTU YANG DIPERUNTUKKAN KEPADA PARA PENZINA YANG MELAKUKAN PERBUATAN TERSEBUT SETELAH MENGETAHUI HUKUMNYA

SEKADAR GAMBAR HIASAN


Pengalaman saya berhadapan dengan sepasang tunang yang mengadu menghadapi masalah besar beberapa tahun lalu,” beritahu Ustaz Abdullah Mahmud, penceramah bebas yang dikenali ramai. Tambahnya, beliau memang tidak hairan dengan pendedahan tersebut kerana sepanjang menjadi penceramah, kaunselor dan merawat orang, dia didatangi oleh golongan remaja yang mengadu menghadapi masalah akibat terlanjur terutamanya si wanita yang mengandung setelah berzina di merata tempat tak kira hutan, hotel, rumah kosong, dalam semak, kereta dan sebagainya.

 “Adakalanya saya menitiskan air mata apabila mengingatkan pergaulan bebas anak muda kita yang makin menjadi-jadi. Mereka ini langsung sudah tidak takut bala Tuhan. Mereka sudah tidak dapat membezakan antara halal dan haram,” tegas beliau dengan nada kesal.
Berbalik kepada pasangan tunang yang datang menemui beliau di pejabatnya di Batu Caves, Selangor ketika itu, Ustaz Abdullah menjelaskan pasangan itu yang berumur lingkungan pertengahan 20-an itu datang untuk meminta pertolongannya. “Apa yang boleh saya bantu encik?” Tanya Ustaz Abdullah kepada mereka. Si lelaki kelihatan malu-malu untuk menceritakan masalahnya manakala si perempuan mencubit paha lelaki itu mungkin meminta agar segera menceritakan masalah mereka.
Ustaz Abdullah yakin masalah yang dihadapi oleh pasangan itu agak berat kerana berdasarkan pengalaman, lazimnya hanya mereka yang menghadapi

"Masalah besar saja akan pergi menemui kaunselor atau ustaz bagi mencari jalan agar kekusutan yang dialami mereka terlerai. “Ustaz…macam ini, saya dan tunang saya ada masalah sikit. Ketika tidur, saya selalu nampak ular dalam rumah. Begitu juga dengan tunang saya. Seringkali ketika tidur, tunang saya menjerit-jerit. Dia kata ular besar datang membelitnya....."

“Saya sendiri sudah takut hendak masuk di dalam semak kerana sering terbayang ada ular,” beritahu lelaki itu ringkas. Mendengar masalah itu, Ustaz Abdullah termenung sejenak. Dia merenung memikirkan “penyakit” aneh yang dihadapi oleh pasangan itu. “Awak pernah pukul
 ular ke?” Ustaz Abdullah mengajukan soalan rambang . Bagaimanapun lelaki itu menggeleng kepala sambil memberitahu dia tidak pernah memukul ular. Lelaki itu turut memberitahu dia dan tunangnya jadi fobia kepada ular dan akibat itu badan mereka menjadi lemah tidak bermaya akibat sering terkejut.

Mereka juga menyatakan telah pergi menemui beberapa orang bomoh meminta air penawar agar kelibat ulat tidak tergambar lagi dalam bayangan matanya tetapi semuanya tidak menjadi. “Selalunya kalau jadi macam ni, pasti ada sebabnya. Kalau tidak ada sebab tertentu, setahu saya perkara seperti ini tidak akan berlaku tambahan lagi berdasarkan pengamatan saya, awak berdua bukan terkena sihir,” kata Ustaz Abdullah yang menyedari pasangan tunang itu cuba menyembunyikan cerita yang sebenar kepadanya.

Namun lelaki itu tetap berkeras menyatakan mereka tidak pernah melakukan sesuatu kesalahan seperti memukul ular dan sebagainya.”Tak perlu hendak malu. Saya hendak tahu ini pun, bukannya saya bermaksud hendak campur hal encik tapi dengan mengetahui puncanya, mudahlah sikit saya berikhtiar kalau-kalau ada serasi, Allah akan makbulkan permohonan kita,” pujuk Ustaz Abdullah lagi.
Sebaik saja mendengar kata-kata itu, wajah mereka tiba-tiba berubah. Si perempuan pula tiba-tiba menitiskan air mata manakala yang lelaki tunduk ke bawah memandang lantai. Dia kelihatan malu untuk bertentangan mata dengan Ustaz Abdullah. “Macam ini Ustaz, sebenarnya saya kena belit ular sawa setahun yang lalu, sejak itu saya mengalami masalah ini, sering diganggu dengan bayangan ular. Tunang saya juga kena belit ular,” akui lelaki itu agak mengejutkan Ustaz Abdullah.

Ustaz Abdullah yang tidak begitu faham dengan penjelasan itu terus bertanya kepada mereka bagaimana cerita yang sebenarnya. Barangkali setelah yakin dengan keikhlasan Ustaz Abdullah untuk membantu, akhirnya pasangan itu menceritakan segala-galanya. Cerita lelaki itu, kejadian itu berlaku sebelum mereka bertunang. Pada suatu hari, mereka yang mengaku bekerja di sebuah syarikat yang sama di Shah Alam, Selangor mengatur janji untuk pergi ke sebuah tempat perkelahan di Selangor. Mereka yang kebetulan bekerja syif malam telah mengambil keputusan untuk pergi pada hari biasa kerana pada hari tersebut orang tidak ramai maka mudahlah mereka bermadu asmara dan bercengkerama.

Menurut lelaki itu lagi, sebelum itupun, mereka pernah pergi ke situ pada hujung minggu. Bagi mereka, pada hujung minggu tidak sesuai kerana, pengunjung terlalu ramai, maka menyukarkan mereka untuk bercumbu rayu. Itupun mereka memilih tempat terlindung tetapi tidak terlepas daripada gangguan pemuda-pemuda yang suka mengendap. “Hanya dua bulan perkenalan, kami sudah terlanjur. Ketika saya dibelit ular tempoh hari, saya berkenalan dengan tunang saya ini sudah enam bulan.
Banyak kali sudah kami melakukan perbuatan terkutuk itu,” nyata lelaki itu sambil menangis. Sebaik saja sampai di kawasan perkelahan yang mempunyai sebatang anak sungai itu, dia menyorokkan motosikal di dalam semak. Manakala tempat mereka bersama terlindung di sebalik pokok balak berhampiran gigi air sungai. Pada tengahari itu memang sunyi. Seorang manusia pun tidak kelihatan.....Bukan main seronoklah mereka berdua kerana dapat bermadu kasih tanpa gangguan, meskipun terbit rasa bimbang kalau ada yang mengintip di sebalik semak atau diserbu pihak berkuasa tapi perasan rindu dendam yang membara mengatasi segala-galanya. Di situ, pada mulanya mereka berbual-bual sambil berpegangan tangan. Kemudian melarat ke bahagian lain pula. Seterusnya nafsu mula menguasai diri masing-masing. Berbekalkan kertas suratkhabar, ia dijadikan alas untuk mereka berbaring. Pakaian si perempuan dilucutkan satu demi satu, selepas itu yang lelaki pula menanggalkan pakaian.

Mereka bercumbu rayu dan terus berzina tanpa menyedari di dalam rumpun semak di hujung kaki mereka berlengkar seekor ular sawa sebesar paha orang dewasa sedang mengeram. “Kami tak sedar ada ular. Tengah-tengah buat benda tu, kaki saya tertendang ular itu menyebabkan dengan pantas ia terus menyerang dan membelit kami berdua. Ia berlaku dengan pantas sekali, tidak sempat kami hendak melarikan diri,” cerita lelaki itu dengan perasaan kesal. Akibat belitan ular sawa itu, mereka berdua merasakan ajal mereka akan tiba pada bila-bila masa kerana setiap kali mereka meronta, semakin kuat ular itu menjerut tubuh mereka.

“Saya menjerit sekuat hati meminta tolong. Perasaan malu sudah tidak ada lagi dalam diri saya pada masa itu. Yang penting, nyawa kami harus diselamatkan dan pada masa yang sama, saya semakin sesak nafas kerana belitan ular itu yang sungguh kuat dan mulutnya terngaga luas seperti tidak sabar-sabar hendak menelan saya,” beritahunya tanpa segan silu lagi. Keadaan kekasihnya semakin lemah. Mukanya pucat lesi seperti sudah kehilangan darah. Lelaki itu tidak mampu berbuat apa-apa. Kudratnya tidak terdaya menandingi ular Dalam keadaan cemas, tiba-tiba muncul seorang pemuda dari sebalik semak sambil memegang sebatang kayu untuk memukul kepala ular itu yang hendak membaham kepala lelaki tersebut.

Pemuda itu teragak-agak untuk memukul kepala ular sawa itu mungkin bimbang kalau terkena kepala lelaki itu. “Saya menjerit dan merayu agar ditolong dengan nada yang tersekat-sekat kerana sesak nafas. Kemudian pemuda itu dengan laju menghayun kayu sebesar betis itu beberapa kali mengenai kepala ular tersebut.
“Akhirnya, ular itu terkulai dan belitannya terurai. Saya tidak mampu bergerak lagi manakala kekasih saya pengsan. Pemuda itu memakaikan semula baju kami. Kemudian dia pergi meminta bantuan orang untuk menghantar kami ke hospital. Dia hanya seorang diri. Saya tidak pasti siapa pemuda itu dan dari mana dia datang. Saya syak mungkin pada mulanya dia sedang mengintai saya buat “projek,” cerita lelaki itu lagi. Akibat belitan ular tersebut, pasangan itu mengalami kecederaan agak teruk iaitu si lelaki patah satu tulang rusuknya
manakala kekasihnya patah dua batang tulang rusuk.
Empat bulan selepas kejadian itu, mereka melangsungkan pertunangan dan merancang untuk berkahwin dalam masa terdekat setelah didesak oleh keluarga yang mengetahui kejadian itu. Bagi mereka, masalah sering dihantui oleh bayangan ular lebih perit daripada menanggung kesakitan akibat patah tulang rusuk. Akibat “badi” itu, tidur malam mereka terganggu setiap malam dan walau kemana sekalipun berada,mereka terbayang berhampiran mereka ada banyak ular. Mendengar penjelasan lelaki itu, fahamlah Ustaz Abdullah apa sebenarnya yang terjadi. Namun sebelum merawat pasangan itu, beliau telah menasihatkan mereka agar bertaubat kerana telah melakukan perbuatan zina.

Ustaz Abdullah juga memberitahu mereka, berkemungkinan peristiwa dibelit ular itu adalah balasan Tuhan di dunia di atas perbuatan mereka itu. “Awak berdua patut bersyukur. Saya rasa Allah sayangkan awak berdua. Dia bagi azab kecil kepada awak berdua mungkin supaya awak insaf dan segera bertaubat. Kalau nak ikutkan, ramai orang berzina tetapi Allah tidak mahu menunjukkan balanya di dunia ini, maka kerana tidak pernah dijatuhkan bala itu, mereka ini berterusan melakukan zina,” nasihat beliau membuatkan pasangan itu menangis tersedu-sedu sambil berjanji akan bertaubat serta berkahwin secepat mungkin.
Ustaz Abdullah memberi sebotol air penawar. Air itu digunakan untuk mandi dan minum. Di samping itu, Ustaz Abdullah menasihatkan pasangan itu agar sering mengingati Tuhan semoga penyakit fobia mereka hilang. Mereka pulang dengan wajah riang dan tidak lama kemudian lelaki itu menghubungi Ustaz Abdullah memberitahu mereka berdua telah sembuh sepenuhnya dan menjemput beliau hadir ke majlis perkahwinan mereka.

P/S: Sesiapa yang melakukan Zina...jadilah ini sebagai pengajaran.....huhuhu....Boleh pulak tak perasan ular sawa ada kat situ.....Mata sudah di tutup oleh syaitan tu yang tak nampak ular sawa tengah mengeram.....